<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=8956925&amp;blogName=cuap+cuap+semaunya...&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Ftempatsampahku.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Ftempatsampahku.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
 Monday, April 02, 2007 
cuma opini

Ada yang bilang manusia itu makhluk sosial, karena katanya manusia harus hidup berkelompok, saling membantu dan bekerja sama ( perasaan banyak juga makhluk hidup lain yang begitu, semut, misalnya) Nggak ada yang bisa mewujudkan segalanya sendiri. Apalagi untuk bisa mandiri, manusia butuh waktu yang terbilang lama. Kalo kuda begitu lahir bisa langsung berdiri, kalo yang namanya manusia mah boro-boro.
Disatu sisi, mungkin memang bener kalo kita nggak bisa hidup sendiri. Tapi disisi lain, akan ada tiba saatnya ketika orang-orang disekitar kita tidak bisa melakukan apa-apa. Semuanya tergantung sama diri sendiri dan yah, mungkin belas kasihan Tuhan. Aku nggak tahu, apa mungkin ini yang dirasakan oleh seorang ibu yang membunuh semua anaknya dan akhirnya menghabisi nyawa nya sendiri beberapa waktu yang lalu. Apakah dia merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan, terlebih lagi tidak ada yang bisa membantu dia? Entahlah. Tapi terlepas dari apa alasan yang melatarbelakangi tindakannya itu, aku bisa mengerti dan menghargai keputusan yang sudah dia pilih. Dan aku merasa tidak ada satupun orang yang berhak untuk menghakimi apa yang sudah diperbuatnya. Terlebih bila mereka tidak ada disana ketika ia membutuhkan.

posted by Arimbi @ 4:37 AM © 1 silent speak
 
 Monday, December 25, 2006 

whuaa aku jadi pengangguran. makanya ,lumayan sering lah ke warnet, ngeblog, buka friendster (akhirnya.. friend ku nambah juga ), cari gawe, biarpun gak dapet-dapet :( tapi pasti semua orang pernah ngalamin yang namanya nganggur kan, jd yah gak terlalu ngotot juga sih, toh katanya rejeki dah ada yang ngatur.

posted by Arimbi @ 8:14 PM © 0 silent speak
 
 Friday, July 28, 2006 
my eq quiz

Your EQ is 93
50 or less: Thanks for answering honestly. Now get yourself a shrink, quick!
51-70: When it comes to understanding human emotions, you'd have better luck understanding Chinese.
71-90: You've got more emotional intelligence than the average frat boy. Barely.
91-110: You're average. It's easy to predict how you'll react to things. But anyone could have guessed that.
111-130: You usually have it going on emotionally, but roadblocks tend to land you on your butt.
131-150: You are remarkable when it comes to relating with others. Only the biggest losers get under your skin.
150+: Two possibilities - you've either out "Dr. Phil-ed" Dr. Phil... or you're a dirty liar.

posted by Arimbi @ 8:15 AM © 0 silent speak
 
karirku

Your Career Type: Artistic
You are expressive, original, and independent.
Your talents lie in your artistic abilities: creative writing, drama, crafts, music, or art.

You would make an excellent:

Actor - Art Teacher - Book Editor
Clothes Designer - Comedian - Composer
Dancer - DJ - Graphic Designer
Illustrator - Musician - Sculptor

The worst career options for your are conventional careers, like bank teller or secretary.

posted by Arimbi @ 7:47 AM © 1 silent speak
 
 Thursday, July 13, 2006 
aku ikut menangis untuknya

Tidak ada olahraga yang semenarik sepakbola. Isinya bukan cuma orang-orang berlarian dan berkeringat, tapi ada juga tawa dan tangisan mereka. Ketika melihat pertandingan sepak bola, aku memang bak melihat sebuah drama, apalagi bawa-bawa nama negara, walaupun negara orang lain yang belum pernah aku lihat dengan mata kepala sendiri, seperti piala dunia kemarin. Suka ikut tegang dan deg-deg ples, apalagi kalo sampe adu penalti. Dan bisa ikutan nangis kalo lihat pemainnya nangis. Aneh memang.
Entah kenapa dari dulu negara jagoanku adalah Prancis. Setelah tampil mengecewakan dengan sangat di piala dunia 2002, toh tahun inipun aku tetap menjagokan Prancis, dengan pemain favorit David Trezeguet sebagai top skorer dalam urusan menendang bola tepat ke tiang gawang :( Makanya seneng luar biasa ketika prancis bisa bertahan sampe ke final, sementara jagoan orang-orang rumah udah pada berguguran. Tapi senin pagi kemaren adalah hari yang sangat mengecewakan, bukan hanya karena prancis kalah tragis lewat adu penalti, tapi juga Zidane diusir pake kartu merah gara-gara nyundul dadanya Materazzi. Hiks..hiks.. Bukan hal yang patut dikenang dari akhir karir seorang pemain sepakbola.
Kejadian yang jarang dilakukan oleh orang sekaliber Zidane ini rupanya hanya mengundang pertanyaan kenapa? dari segelintir saja orang yang aku kenal, yang menurutku merupakan sample acak yang bisa dipakai untuk mewakili pendapat orang-orang yang lebih banyak. Sebagian malah tampaknya tidak peduli dengan pertanyaan mengapa? tersebut, buktinya malah ada tv yang mencari-cari tindak kekerasan apa lagi yang pernah dilakukan oleh Zidane di masa lampau ketimbang cari alasan kenapa zidane melakukan hal seperti itu. Hmm sekarang aku tahu kenapa ada peribahasa yang berbunyi gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga atau kemarau setahun dihapus hujan sehari, karena ternyata hal yang baik akan dengan mudah dihapuskan oleh hal yang buruk walaupun hanya sekali.
Zidane memang bukan pemain favoritku, tapi kejadian dia ini bikin aku sedih karena membuatku teringat dengan peribahasa-peribahasa yang bikin aku lebih sedih lagi, hiks..hikss

posted by Arimbi @ 6:07 AM © 5 silent speak
 
 Tuesday, June 06, 2006 
aku tidak punya teman

Sering kali aku bertanya sembari mengeluh pada Tuhan. Kenapa aku dikasih tampak jutek?. Ya, aku memang jutek dan galak, sampai-sampai aku sendiri tidak suka tampangku. Ketika aku diam, orang yang tidak mengenalku dengan mudah akan menyangka kalau aku sedang kesal atau marah. Padahal aku lebih sering diam. Akhirnya aku pun belajar untuk tidak sembarang bercanda dengan orang yang baru aku kenal karena orang bisa saja salah sangka, berhubung muka dan cara bicara ini tidak mendukung. Aku sadar aku bukan orang yang mudah disukai, tidak supel, bukan teman ngobrol yang menyenangkan, nggak bisa basa-basi, jarang memuji, kadang terlalu sensitif dan mungkin nggak punya selera humor yang oke. Boro-boro orang lain, aku pun sering benci sama diri sendiri. Aku bukannya tidak mau berusaha untuk berubah. Aku pernah jatuh ke kondisi dimana aku mau melakukan apapun, dan menerima perlakuan apapun, hanya untuk bisa disukai. Tapi ternyata tidak menjadi diri sendiri itu sungguh melelahkan, dan aku malah semakin tidak menghargai diriku sendiri.
Dengan paket seperti ini, orang yang bisa aku sebut teman hanyalah segelintir saja. Mereka adalah orang-orang yang mau menerimaku apa adanya dengan segala kekuranganku, mereka adalah orang yang belajar untuk tidak berprasangka buruk dan menilai sesuatu dari luarnya saja, dan mereka adalah orang yang sangat sabar dan mau berkorban waktu untuk mengenalku lebih dekat ketika mereka punya pilihan untuk pergi. Hei, tampang jutekku ini ternyata berfungsi menyeleksi orang-orang yang ada di sekitarku. Aku jadi hanya mendapatkan yang terbaik.
Sekarang selain mengeluh ada kalanya aku bersyukur, walaupun hanya sesekali.
Aku memang tidak punya teman, tapi aku punya sahabat.

posted by Arimbi @ 6:49 AM © 7 silent speak