Monday, July 18, 2005
“Sebetulnya saya tidak begitu suka dengan lagunya, walaupun begitu saya berusaha untuk memberikan penilaian objektif. Tapi yah….” sambil menggelengkan kepalanya Indra lesmana berkata.
Semenjak acara-acara reality show menjamur ditelevisi, rasanya komentar dari orang-orang yang dipanggil juri wajib untuk diperdengarkan. Biasanya mereka adalah senior dari bidangnya, dengan kekhasan komentar masing-masing. Bila pada Indonesian Idol ada Titi DJ yang baik hati dan selalu membesarkan semangat, Mutia Kasim yang punya komentar pendek tapi mengena, Dhimas djay yang lebih mementingkan penampilan ( dan dijamin nggak bisa nyanyi), dan Indra Lesmana yang yah...begitulah, lain lagi dengan acara-acara lain.
Tapi walaupun mereka professional, sebagai manusia biasa mereka tidak luput dari subjektifitas. Karena itulah manusia. Seonggok daging yang dikendalikan dengan hormone ( pernah denger dari siapa) dan penuh dengan subjektifitas. Maka tidaklah mengherankan bila komentar dari mereka berempat seringkali berbeda, bahkan bertentangan. Dan akhirnya bagus tidaknya mereka ternyata dilihat dari berbagai faktor yang berbeda. Ada yang melihat penampilan, attitude atau bahkan karena cocok dengan auranya saja. Itulah yang namanya selera, hal yang kadang standardnya tidak begitu jelas. Maka untuk hal yang berhuungan dengan selera, tidak ada istilah objektif. Yang ada hanya subjektifitas, yang bisa dibingkai dengan sedikit, banyak atau bahkan sama sekali tanpa logika.
Semenjak acara-acara reality show menjamur ditelevisi, rasanya komentar dari orang-orang yang dipanggil juri wajib untuk diperdengarkan. Biasanya mereka adalah senior dari bidangnya, dengan kekhasan komentar masing-masing. Bila pada Indonesian Idol ada Titi DJ yang baik hati dan selalu membesarkan semangat, Mutia Kasim yang punya komentar pendek tapi mengena, Dhimas djay yang lebih mementingkan penampilan ( dan dijamin nggak bisa nyanyi), dan Indra Lesmana yang yah...begitulah, lain lagi dengan acara-acara lain.
Tapi walaupun mereka professional, sebagai manusia biasa mereka tidak luput dari subjektifitas. Karena itulah manusia. Seonggok daging yang dikendalikan dengan hormone ( pernah denger dari siapa) dan penuh dengan subjektifitas. Maka tidaklah mengherankan bila komentar dari mereka berempat seringkali berbeda, bahkan bertentangan. Dan akhirnya bagus tidaknya mereka ternyata dilihat dari berbagai faktor yang berbeda. Ada yang melihat penampilan, attitude atau bahkan karena cocok dengan auranya saja. Itulah yang namanya selera, hal yang kadang standardnya tidak begitu jelas. Maka untuk hal yang berhuungan dengan selera, tidak ada istilah objektif. Yang ada hanya subjektifitas, yang bisa dibingkai dengan sedikit, banyak atau bahkan sama sekali tanpa logika.
posted by Arimbi @ 8:55 PM

hidup firman.............
hehehe...................
gw tetep pilih delon deh.... :D
__________________________________________________________ Comments by :
Apa kabar arimbi? Tante gitafh-nya kemana aja?
__________________________________________________________ Comments by :
__________________________________________________________ Comments by :
__________________________________________________________ Comments by :
Post a Comment
<< Home